Menjadi Pengajar Yang Pandai Berbagi Ilmu

06/03/2009 13:05

        Tak dapat dipungkiri, seorang pengajar sudah tentu akan dianggap pandai dalam bidang yang diasuhnya. Akan tetapi, jika seorang pengajar hanya mengandalkan ilmu yang pernah didapatnya dibangku kuliah tentu bukanlah pengajar namanya. Pengajar sudah tentu harus banyak melahap buku-buku atau Research ilmu yang berkaitan dengan bidangnya atau membuat study kasus tentang mata kuliah yang diasuhnya, Ayah saya pernah berkata " seorang pengajar harus punyai pengetahuan minimal satu tingkat diatas peserta didiknya".  Satu misteri masih perlu diungkapbangaimana materi pengajarannya  dapat sampai dicerna dan dipahami oleh mahasiswanya:

Seringkali mungkin kita dikelas yang tengah berlangsung mendengar   keluhan seperti “Wah, materi kuliahnya menarik, sayang sekali cara mengajarnya membosankan”, atau “ Pengajar itu mungkin pintar, tapi Penyampaiannya tidak karuan”. Mengajar memang bagaikan sebuah seni, di mana sebagian orang mampu melakukannya dengan luwes dan sangat baik, sementara yang lainnya selalu kikuk dan bahkan tidak menikmatinya.   Butuh banyak hal sebagai seorang Pengajar yang dapat dilakukan dikelas yang diasuhnya:

Kuliah sebagai Entertainment

Suatu kali, seorang rekan saya, bercerita kepada saya bagaimana kisahnya dahulu pertama kali diberi jadwal mengajar dikelas teori.  Setiap kali akan memberikan kuliah, teman saya tersebut selalu mengurung diri di dalam kamar mandi selama beberapa waktu ( red: 10-20 menit), agar mampu bersiap sebaik mungkin. Hasilnya, kuliah yang disajikan mengasyikkan, mudah dicerna, dan mahasiswa menyerap hal yang perlu disampaikan. Tapi, apakah memang perlu menghabiskan beberapa waktu hanya untuk menyampaikan sebuah kuliah?

Rekan saya tersebut lantas menganalogikan seorang pemberi kuliah sebagai seorang entertainer/penampil. Bayangkan jika anda membayar tiket untuk menyaksikan sebuah pertunjukan, lantas sang penampil tidak berlatih cukup lama dan cukup serius. Tentu anda akan sangat kecewa dan malas menghadiri penampilan berikutnya. Dan lebih dari itu, uang yang anda belikan tiket akan terasa terbuang percuma. Begitu juga, saat mahasiswa membayar uang kuliah dan mendapati dosennya tidak mampu menyampaikan kuliah sebaik harapannya.

Memang idealnya, sebuah kuliah mampu ditampilkan layaknya sebuah hiburan. Tiga resep jitu ditawarkan oleh seorang Profesor  Amerika, yaitu: kejernihan, ketepatan waktu, serta ketegangan (clarity, timing, suspense). Dengan resep ini, ia mengubah ruang kelasnya menjadi ruang pertunjukan.

Presentasi dengan Bahasa Awam

Mantra utama seorang pengajar adalah, “Yang paling penting diperhatikan bukanlah proses *penyampaian* informasi yang dilakukan, melainkan proses *penerimaan* informasi itu oleh audiens”. Dengan kata lain, anda perlu lebih dulu mengenali audiens . Setelah itu, barulah teknik penyampaian presentasi sebagai tontonan bisa disajikan sesuai dengan karakter audiens yang perlu menikmatinya. Di sini, saya kembali teringat pada nasehat lain dari guru yang saya ceritakan di atas, “Kepandaian seseorang barulah terlihat jika ia mampu menyampaikan ilmunya dengan bahasa yang semudah mungkin dan pas dengan pendengarnya”.

Tips di atas terdengar sepele namun sulit dilaksanakan. Apalagi di zaman sekarang, di mana nyaris seluruh presentasi disiapkan dengan perangkat lunak semacam PowerPoint dan ditampilkan dengan media visual, maka godaan yang muncul menjadi berlipat: (1) ingin menampilkan sebanyak mungkin materi ke dalam slide, serta (2) ingin menggunakan fitur-fitur canggih di PowerPoint sebanyak-banyaknya.  tetapi mungkin  melakukan dua hal tersebut justru sering mengurangi kenikmatan audiens menyaksikan tontonan sang "Penampil beraksi".

Mencerna Buku2 & Materi kuliah Semudah Membaca Komik

Sebuah resep lain yang mudah diterapkan adalah penggunaan visualisasi. Karena manusia adalah mahluk yang sangat mengandalkan indera pandangan dalam menilai banyak hal, maka resep ini akan selalu relevan. Tidak saja resep ini cocok diterapkan dalam menampilkan presentasi sebagai tontonan, tapi juga besar manfaatnya dalam menunjang sebuah tulisan.

Sebuah mantra sederhana dapat dipakai, “Memulai dengan yang sederhana dan logis, agar siapapun yang  mencernanya semudah membaca komik”.

Sumber : http://netsains.com dengan banyak perubahan